Minggu, 18 Maret 2018

SALINAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 4 TAHUN 2014
TENTANG
PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG
NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANGUNDANG
NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI
MENJADI UNDANG-UNDANG
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa berdasarkan Pasal 24C ayat (5) Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, hakim
konstitusi harus memiliki integritas dan kepribadian
yang tidak tercela, adil, dan negarawan yang menguasai
konstitusi dan ketatanegaraan serta tidak merangkap
jabatan sebagai pejabat negara;
b. bahwa untuk menyelamatkan demokrasi dan negara
hukum Indonesia serta untuk mengembalikan
kewibawaan dan kepercayaan masyarakat terhadap
Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga negara yang
menjalankan fungsi menegakkan Undang-Undang
Dasar, Presiden telah menetapkan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-
Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah
Konstitusi, terutama terhadap ketentuan mengenai
syarat dan tata cara seleksi, pemilihan, dan pengajuan
calon hakim konstitusi serta pembentukan majelis
kehormatan hakim konstitusi;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu membentuk
Undang-Undang tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-
Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah
Konstitusi Menjadi Undang-Undang;
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, Pasal 22 ayat (2) Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang . . .
- 2 -
2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2003 Nomor 98, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4316) sebagaimana
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8
Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011
Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5226);
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PENETAPAN PERATURAN
PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1
TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANGUNDANG
NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH
KONSTITUSI MENJADI UNDANG-UNDANG.
Pasal 1
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang
Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013
Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5456) ditetapkan menjadi Undang-Undang dan
melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari
Undang-Undang ini.
Pasal 2
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar . . .
- 3 -
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan
pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya
dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakarta
pada tanggal 15 Januari 2014
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 15 Januari 2014
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
AMIR SYAMSUDIN
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2014 NOMOR 5
PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 4 TAHUN 2014
TENTANG
PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG
NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANGUNDANG
NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI
MENJADI UNDANG-UNDANG
I. UMUM
Berdasarkan Pasal 24C ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, hakim konstitusi harus memiliki
integritas dan kepribadian yang tidak tercela, adil, dan negarawan yang
menguasai konstitusi dan ketatanegaraan serta tidak merangkap jabatan
sebagai pejabat negara. Penegasan syarat hakim konstitusi yang
sedemikian ketat dan berat dalam Undang-Undang Dasar karena hakim
konstitusi mengemban amanah yang sangat mulia yaitu menegakkan
kehidupan berbangsa melalui penjagaan konstitusi sesuai dengan prinsip
negara hukum.
Pada saat ini kewibawaan dan kepercayaan masyarakat terhadap
hakim konstitusi menurun, padahal hakim konstitusi mengemban
amanah sangat penting untuk menjaga tegaknya demokrasi dan pilar
negara hukum, sehingga perlu dilakukan upaya penyelamatan terhadap
hakim konstitusi secara cepat, khususnya menjelang pelaksanaan
pemilihan umum 2014 yang sangat strategis bagi keberlanjutan
kehidupan demokrasi di tanah air. Jika ketidakpercayaan masyarakat
terhadap hakim konstitusi tidak segera dipulihkan akan berimplikasi
terhadap legitimasi hasil pemilihan umum 2014 yang sengketanya
merupakan kewenangan hakim konstitusi untuk mengadili.
Mengingat pelaksanaan pemilihan umum 2014 sudah sangat dekat,
diperlukan langkah-langkah cepat dan mendesak untuk memulihkan
kewibawaan dan kepercayaan masyarakat terhadap hakim konstitusi
dengan melakukan perubahan atas Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi terutama mengenai syarat dan
tata cara seleksi, pemilihan, dan pengajuan calon hakim konstitusi serta
pembentukan Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi melalui Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.
Berdasarkan . . .
- 2 -
Berdasarkan ketentuan Pasal 22 ayat (2) Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang harus mendapat persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia maka Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang Perubahan
Kedua Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah
Konstitusi, perlu ditetapkan menjadi Undang-Undang.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5493
LAMPIRAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 4 TAHUN 2014
TENTANG
PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI
UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG
PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24
TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI MENJADI
UNDANG-UNDANG
PERATURAN PEMERINTAH
PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1 TAHUN 2013
TENTANG
PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003
TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa berdasarkan Pasal 24C ayat (5) Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945, hakim konstitusi harus memiliki
integritas dan kepribadian yang tidak tercela, adil,
dan negarawan yang menguasai konstitusi dan
ketatanegaraan serta tidak merangkap jabatan
sebagai pejabat negara;
b. bahwa untuk menyelamatkan demokrasi dan negara
hukum Indonesia serta untuk mengembalikan
kewibawaan dan kepercayaan masyarakat terhadap
Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga negara yang
menjalankan fungsi menegakkan Undang-Undang
Dasar, perlu dilakukan perubahan terhadap
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011
tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi,
terutama terhadap ketentuan mengenai syarat dan
tata cara seleksi, pemilihan, dan pengajuan calon
hakim konstitusi serta pembentukan majelis
kehormatan hakim konstitusi;
c. bahwa . . .
- 2 -
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu
menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi;
Mengingat : 1. Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2003 Nomor 98, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2011 Nomor 70, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5226);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANGUNDANG
TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS
UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG
MAHKAMAH KONSTITUSI.
Pasal I
Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4316), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-
Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah
Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2011 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5226), diubah sebagai berikut:
1. Ketentuan . . .
- 3 -
1. Ketentuan Pasal 1 angka 4 diubah dan ditambah 1
(satu) angka, yakni angka 5, sehingga Pasal 1 berbunyi
sebagai berikut:
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Mahkamah Konstitusi adalah salah satu pelaku
kekuasaan kehakiman sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
2. Dewan Perwakilan Rakyat yang selanjutnya
disingkat DPR adalah Dewan Perwakilan Rakyat
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
3. Permohonan adalah permintaan yang diajukan
secara tertulis kepada Mahkamah Konstitusi
mengenai:
a. pengujian undang-undang terhadap Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
b. sengketa kewenangan lembaga negara yang
kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
c. pembubaran partai politik;
d. perselisihan tentang hasil pemilihan umum;
atau
e. pendapat . . .
- 4 -
e. pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil
Presiden diduga telah melakukan pelanggaran
hukum berupa pengkhianatan terhadap
negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana
berat lainnya, atau perbuatan tercela, dan/atau
tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden
dan/atau Wakil Presiden sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.
4. Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi adalah
perangkat yang dibentuk oleh Mahkamah
Konstitusi dan Komisi Yudisial untuk menjaga
kehormatan dan perilaku hakim konstitusi.
5. Panel Ahli adalah perangkat yang dibentuk oleh
Komisi Yudisial untuk menguji kelayakan dan
kepatutan calon hakim konstitusi yang diusulkan
oleh Mahkamah Agung, DPR, dan Presiden.
2. Ketentuan Pasal 15 ayat (2) huruf b dan huruf h diubah
dan ditambah 1 (satu) huruf, yakni huruf i serta ayat (3)
ditambah 1 (satu) huruf, yakni huruf f, sehingga
Pasal 15 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 15
(1) Hakim konstitusi harus memenuhi syarat sebagai
berikut:
a. memiliki integritas dan kepribadian yang tidak
tercela;
b. adil; dan
c. negarawan yang menguasai konstitusi dan
ketatanegaraan.
(2) Untuk . . .
- 5 -
(2) Untuk dapat diangkat menjadi hakim konstitusi,
selain harus memenuhi syarat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), seorang calon hakim
konstitusi harus memenuhi syarat:
a. warga negara Indonesia;
b. berijazah doktor dengan dasar sarjana yang
berlatar belakang pendidikan tinggi hukum;
c. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan
berakhlak mulia;
d. berusia paling rendah 47 (empat puluh tujuh)
tahun dan paling tinggi 65 (enam puluh lima)
tahun pada saat pengangkatan;
e. mampu secara jasmani dan rohani dalam
menjalankan tugas dan kewajiban;
f. tidak pernah dijatuhi pidana penjara
berdasarkan putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap;
g. tidak sedang dinyatakan pailit berdasarkan
putusan pengadilan;
h. mempunyai pengalaman kerja di bidang hukum
paling sedikit 15 (lima belas) tahun; dan
i. tidak menjadi anggota partai politik dalam
jangka waktu paling singkat 7 (tujuh) tahun
sebelum diajukan sebagai calon hakim
konstitusi.
(3) Selain persyaratan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (2) calon hakim konstitusi juga
harus memenuhi kelengkapan administrasi dengan
menyerahkan:
a. surat pernyataan kesediaan untuk menjadi
hakim konstitusi;
b. daftar riwayat hidup;
c. menyerahkan . . .
- 6 -
c. menyerahkan fotokopi ijazah yang telah
dilegalisasi dengan menunjukkan ijazah asli;
d. laporan daftar harta kekayaan serta sumber
penghasilan calon yang disertai dengan
dokumen pendukung yang sah dan telah
mendapat pengesahan dari lembaga yang
berwenang; dan
e. nomor pokok wajib pajak (NPWP); dan
f. surat pernyataan tidak menjadi anggota partai
politik.
3. Di antara Pasal 18 dan Pasal 19 disisipkan 3 (tiga)
pasal, yakni Pasal 18A, Pasal 18B, dan Pasal 18C,
sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 18A
(1) Hakim konstitusi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 18 ayat (1) sebelum ditetapkan Presiden,
terlebih dahulu harus melalui uji kelayakan dan
kepatutan yang dilaksanakan oleh Panel Ahli.
(2) Mahkamah Agung, DPR, dan/atau Presiden
mengajukan calon hakim konstitusi kepada Panel
Ahli masing-masing paling banyak 3 (tiga) kali dari
jumlah hakim konstitusi yang dibutuhkan untuk
dilakukan uji kelayakan dan kepatutan.
(3) Panel Ahli menyampaikan calon hakim konstitusi
yang dinyatakan lolos uji kelayakan dan kepatutan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai
dengan jumlah hakim konstitusi yang dibutuhkan
ditambah 1 (satu) orang kepada Mahkamah Agung,
DPR, dan/atau Presiden.
(4) Dalam . . .
- 7 -
(4) Dalam hal calon hakim konstitusi yang dinyatakan
lolos uji kelayakan dan kepatutan kurang dari
jumlah hakim konstitusi yang dibutuhkan,
Mahkamah Agung, DPR, dan/atau Presiden
mengajukan kembali calon hakim konstitusi
lainnya paling banyak 3 (tiga) kali dari jumlah
hakim konstitusi yang masih dibutuhkan.
(5) Dalam hal calon hakim konstitusi yang dinyatakan
lolos uji kelayakan dan kepatutan sama dengan
jumlah hakim konstitusi yang dibutuhkan,
Mahkamah Agung, DPR, dan/atau Presiden dapat
langsung mengajukannya kepada Presiden untuk
ditetapkan, atau mengajukan tambahan paling
banyak 3 (tiga) calon hakim konstitusi lainnya
untuk diuji kelayakan dan kepatutan oleh Panel
Ahli.
(6) Mahkamah Agung, DPR, dan/atau Presiden
memilih hakim konstitusi sesuai jumlah yang
dibutuhkan dari nama yang dinyatakan lolos uji
kelayakan dan kepatutan oleh Panel Ahli, dan
mengajukannya kepada Presiden untuk ditetapkan.
Pasal 18B
Panel Ahli menyelesaikan tugasnya dalam jangka waktu
paling lama 3 (tiga) bulan setelah dibentuk oleh Komisi
Yudisial.
Pasal 18C
(1) Panel Ahli sebagaimana dimaksud dalam Pasal
18A ayat (1) berjumlah 7 (tujuh) orang.
(2) Panel Ahli terdiri atas:
a. 1 (satu) . . .
- 8 -
a. 1 (satu) orang diusulkan oleh Mahkamah
Agung;
b. 1 (satu) orang diusulkan oleh DPR;
c. 1 (satu) orang diusulkan oleh Presiden; dan
d. 4 (empat) orang dipilih oleh Komisi Yudisial
berdasarkan usulan masyarakat yang terdiri
atas mantan hakim konstitusi, tokoh
masyarakat, akademisi di bidang hukum, dan
praktisi hukum.
(3) Panel Ahli harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. memiliki reputasi dan rekam jejak yang tidak
tercela;
b. memiliki kredibilitas dan integritas;
c. menguasai ilmu hukum dan memahami
Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
d. berpendidikan paling rendah magister;
e. berusia paling rendah 50 (lima puluh) tahun;
dan
f. tidak menjadi anggota partai politik dalam
jangka waktu paling singkat 5 (lima) tahun
sebelum Panel Ahli dibentuk.
(4) Anggota Panel Ahli dilarang mencalonkan diri
sebagai calon hakim konstitusi.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara
pemilihan Panel Ahli sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf d diatur dengan Peraturan Komisi
Yudisial.
4. Ketentuan . . .
- 9 -
4. Ketentuan Pasal 20 diubah sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 20
(1) Ketentuan mengenai tata cara seleksi, pemilihan,
dan pengajuan calon hakim konstitusi diatur oleh
masing-masing lembaga yang berwenang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18A.
(2) Ketentuan mengenai tata cara uji kelayakan dan
kepatutan yang dilaksanakan oleh Panel Ahli
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18A ayat (1)
diatur oleh Komisi Yudisial.
(3) Seleksi, pemilihan, dan pengajuan hakim
konstitusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan secara obyektif dan akuntabel.
5. Ketentuan Pasal 26 ayat (3) diubah, ayat (4) dan ayat (5)
dihapus, sehingga Pasal 26 berbunyi sebagai berikut:
Pasal 26
(1) Mahkamah Konstitusi memberitahukan kepada
lembaga yang berwenang sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 18 ayat (1) mengenai hakim konstitusi
yang akan diberhentikan dalam jangka waktu
paling lama 6 (enam) bulan sebelum:
a. memasuki usia sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 23 ayat (1) huruf c; atau
b. berakhir masa jabatan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 23 ayat (1) huruf d.
(2) Dalam . . .
- 10 -
(2) Dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas)
hari kerja sejak Mahkamah Konstitusi menerima
Keputusan Presiden sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 23 ayat (4), Mahkamah Konstitusi
memberitahukan kepada lembaga yang berwenang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1)
mengenai hakim konstitusi yang diberhentikan
berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 23 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e,
atau ayat (2).
(3) Lembaga yang berwenang sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) mengajukan pengganti
hakim konstitusi kepada Presiden sesuai dengan
tata cara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18A.
(4) Dihapus.
(5) Dihapus.
6. Judul Bab IVA diubah sehingga berbunyi sebagai
berikut:
BAB IVA
KODE ETIK DAN PEDOMAN PERILAKU
HAKIM KONSTITUSI SERTA MAJELIS KEHORMATAN
HAKIM KONSTITUSI
7. Ketentuan Pasal 27A diubah sehingga berbunyi sebagai
berikut:
Pasal 27A
(1) Mahkamah Konstitusi bersama-sama dengan
Komisi Yudisial menyusun dan menetapkan Kode
Etik dan Pedoman Perilaku Hakim Konstitusi yang
berisi norma yang harus dipatuhi oleh setiap
hakim konstitusi dalam menjalankan tugasnya
untuk menjaga kehormatan dan perilaku hakim
konstitusi.
(2) Dalam . . .
- 11 -
(2) Dalam menyusun Kode Etik dan Pedoman Perilaku
Hakim Konstitusi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial
dapat mengikutsertakan pihak lain yang
berkompeten.
(3) Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
bersifat mengikat serta wajib dipatuhi oleh hakim
konstitusi.
(4) Untuk menegakkan Kode Etik dan Pedoman
Perilaku Hakim Konstitusi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), Mahkamah Konstitusi bersama-sama
dengan Komisi Yudisial membentuk Majelis
Kehormatan Hakim Konstitusi yang bersifat tetap.
(5) Keanggotaan Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berjumlah 5
(lima) orang yang terdiri atas unsur:
a. 1 (satu) orang mantan hakim konstitusi;
b. 1 (satu) orang praktisi hukum;
c. 2 (dua) orang akademisi yang salah satu atau
keduanya berlatar belakang di bidang hukum;
dan
d. 1 (satu) orang tokoh masyarakat.
(6) Anggota Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi
sebagaimana dimaksud pada ayat (5) harus
memenuhi syarat sebagai berikut:
a. memiliki integritas dan kepribadian yang tidak
tercela;
b. adil;
c. berusia . . .
- 12 -
c. berusia paling rendah 50 (lima puluh) tahun;
dan
d. tidak menjadi anggota partai politik dalam
jangka waktu paling singkat 5 (lima) tahun
sebelum diangkat menjadi anggota Majelis
Kehormatan Hakim Konstitusi.
(7) Masa jabatan Majelis Kehormatan Hakim
Konstitusi sebagaimana dimaksud pada ayat (5)
selama 5 (lima) tahun dan tidak dapat dipilih
kembali.
(8) Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi mempunyai
wewenang untuk:
a. memanggil hakim konstitusi yang diduga
melakukan pelanggaran kode etik untuk
memberikan penjelasan dan pembelaan;
b. memanggil pelapor, saksi, dan/atau pihak lain
yang terkait untuk dimintai keterangan,
termasuk untuk dimintai dokumen atau bukti
lain; dan
c. memberikan sanksi kepada hakim konstitusi
yang terbukti melanggar kode etik.
(9) Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi bersidang
secara terbuka untuk melakukan pemeriksaan
dugaan adanya pelanggaran kode etik yang
dilakukan oleh hakim konstitusi.
(10) Ketentuan . . .
- 13 -
(10) Ketentuan bersidang secara terbuka sebagaimana
dimaksud pada ayat (9) tidak berlaku terhadap
pemeriksaan yang terkait dengan perbuatan
asusila dan pemeriksaan yang dapat mengganggu
proses penegakkan hukum yang sedang berjalan.
(11) Putusan Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi
bersifat final dan mengikat.
(12) Putusan Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi
berupa sanksi atau rehabilitasi diambil dalam
rapat pleno Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi.
(13) Ketentuan lebih lanjut mengenai kode etik dan
pedoman perilaku hakim konstitusi, tata cara
pemilihan Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi,
susunan organisasi dan tata kerja Majelis
Kehormatan Hakim Konstitusi diatur dengan
Peraturan Bersama Mahkamah Konstitusi dan
Komisi Yudisial.
(14) Untuk mendukung pelaksanaan tugas Majelis
Kehormatan Hakim Konstitusi dibentuk sekretariat
yang berkedudukan di Komisi Yudisial dan
dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Komisi Yudisial.
8. Bab VII Ketentuan Peralihan ditambah 1 (satu) pasal,
yakni Pasal 87A sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 87A . . .
- 14 -
Pasal 87A
Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi tetap
melaksanakan tugas sampai dengan terbentuknya
Majelis Kehormatan Hakim Konstitusi berdasarkan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini.
9. Bab VIII Ketentuan Penutup ditambah 1 (satu) pasal,
yakni Pasal 87B sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 87B
(1) Pada saat Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-
Undang ini mulai berlaku, Kode Etik dan Pedoman
Perilaku Hakim Konstitusi dinyatakan masih tetap
berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
ini.
(2) Peraturan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang ini harus ditetapkan
paling lama 3 (tiga) bulan terhitung sejak Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini
diundangkan.
(3) Selama peraturan pelaksanaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) belum ditetapkan,
pembentukan Panel Ahli dan Majelis Kehormatan
Hakim Konstitusi dilaksanakan oleh Komisi
Yudisial.
Pasal II
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini
mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar . . .
- 15 -
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan
pengundangan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam
Lembaran Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Yogyakarta
pada tanggal 17 Oktober 2013
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 17 Oktober 2013
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
AMIR SYAMSUDIN
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2013 NOMOR 167
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH
PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1 TAHUN 2013
TENTANG
PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003
TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI
I. UMUM
Berdasarkan Pasal 24C ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, hakim konstitusi harus memiliki
integritas dan kepribadian yang tidak tercela, adil, dan negarawan yang
menguasai konstitusi dan ketatanegaraan serta tidak merangkap jabatan
sebagai pejabat negara. Penegasan syarat hakim konstitusi yang
sedemikian ketat dan berat dalam Undang-Undang Dasar karena hakim
konstitusi mengemban amanah yang sangat mulia yaitu menegakkan
kehidupan berbangsa melalui penjagaan konstitusi sesuai dengan prinsip
negara hukum.
Pada saat ini kewibawaan dan kepercayaan masyarakat terhadap
hakim konstitusi menurun, padahal hakim konstitusi mengemban amanah
sangat penting untuk menjaga tegaknya demokrasi dan pilar negara
hukum, sehingga perlu dilakukan upaya penyelamatan terhadap hakim
konstitusi secara cepat, khususnya menjelang pelaksanaan pemilihan
umum 2014 yang sangat strategis bagi keberlanjutan kehidupan
demokrasi di tanah air. Jika ketidakpercayaan masyarakat terhadap hakim
konstitusi tidak segera dipulihkan akan berimplikasi terhadap legitimasi
hasil pemilihan umum 2014 yang sengketanya merupakan kewenangan
hakim konstitusi untuk mengadili.
Mengingat pelaksanaan pemilihan umum 2014 sudah sangat dekat,
diperlukan langkah-langkah cepat dan mendesak untuk memulihkan
kewibawaan dan kepercayaan masyarakat terhadap hakim konstitusi
dengan melakukan perubahan atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun
2003 tentang Mahkamah Konstitusi terutama mengenai syarat dan tata
cara seleksi, pemilihan, dan pengajuan calon hakim konstitusi serta
pembentukan majelis kehormatan hakim konstitusi melalui Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.
II. PASAL . . .
- 2 -
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal I
Angka 1
Pasal 1
Cukup jelas.
Angka 2
Pasal 15
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa” adalah menjalankan
ajaran agama.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h . . .
- 3 -
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Angka 3
Pasal 18A
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “jumlah hakim konstitusi
yang dibutuhkan” adalah disesuaikan dengan jabatan
hakim konstitusi yang belum terisi.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 18B
Cukup jelas.
Pasal 18C
Cukup jelas.
Angka 4 . . .
- 4 -
Angka 4
Pasal 20
Cukup Jelas.
Angka 5
Pasal 26
Cukup jelas.
Angka 6
Cukup jelas.
Angka 7
Pasal 27A
Cukup jelas.
Angka 8
Pasal 87A
Cukup jelas.
Angka 9
Pasal 87B
Cukup jelas.
Pasal II
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5456

Tidak ada komentar:

Posting Komentar